Saturday, September 27, 2008

Menemukan Akar Instabilitas Finansial

Kompas, Minggu 28 September 2008 | 03:00 WIB

A PRASETYANTOKO

Buku ini menarik karena ketika ditulis pada 1986 nyaris tidak diperhatikan orang. Di-”kemas ulang” dalam terbitan baru tahun 2008, justru pemikirannya kemudian dianggap sangat relevan dengan situasi akhir-akhir ini, saat pasar finansial mengalami gejolak drastis.

Henry Kaufman, tokoh pasar modal kontemporer, memberi kata pembuka yang menegaskan relevansi pemikiran Minsky di hari ini. Demikian pula dua pengikut pemikirannya, Dimitri B Papadimitiou dan L Randall Wray, memberikan kontekstualisasi yang sangat tajam terhadap pemikiran Minsky.

Apa esensi pemikiran di dalam buku ini? Berbeda dengan pemikir di zamannya, Minsky mengajukan argumen pokok, instabilitas finansial sebenarnya berasal dari dalam dirinya sendiri (endogen) dan bukan dari luar (eksogen). Secara lebih eksplisit dia jelaskan, kekacauan ekonomi atau finansial bukanlah karena perang, kenaikan harga minyak, huru-hara sosial politik atau bencana alam. Tetapi karena sifat alamiahnya yang spekulatif.

Pandangan tentang sifat endogen instabilitas ini tidak biasa pada zamannya. Aliran yang lebih dominan pada waktu ini (hingga saat ini) justru menganggap uang dan sirkulasinya bersifat netral, maka harus dikelola secara ”bebas” sehingga menghasilkan sistem alokasi yang efisien.

Bagi pemikir monetarist ini, intervensi pada sirkulasi kapital menjadi sesuatu yang ditabukan. Sebaliknya, menurut Minsky, karena pada dasarnya sektor finansial memiliki sifat alamiah yang tidak stabil, maka perlu ”dikelola” melalui berbagai campur tangan. Dengan kata lain, intervensi merupakan keharusan.

Relevansi

Mengapa pemikiran Minsky relevan? Pasar finansial Amerika Serikat (AS) akhir-akhir ini diwarnai serangkaian gejolak mendebarkan. Menyusul pernyataan kebangkrutan lembaga keuangan terbesar keempat AS, Lehman Brothers, pasar Wall Street terguncang. Dampaknya seperti tsunami yang melibas perusahaan-perusahaan finansial besar lainnya.

Harga saham perusahaan keuangan Morgan Stanley and Goldman Sachs tiba-tiba merosot sebesar masing-masing 11 dan 16 persen. Dan, US Federal Reserve terpaksa harus menyelamatkan American International Group (AIG) dengan menggelontorkan uang sebesar 85 miliar dollar AS.

Korban serta biaya dari krisis subprime mortgage sudah terlalu banyak. Dimulai dengan penyelamatan Bear Stearns Co.Inc, kemudian disusul dengan Fannie Mae dan Freddie Mac, dan akhirnya raksasa Lehman Brothers, Merrill Lynch, dan AIG.

Kebangkrutan perusahaan-perusahaan tersebut membawa dampak yang sistematis. Pasar credit derivatives dan structured finances terkena dampak langsung. Selebihnya, pasar keuangan pada umumnya mengalami guncangan, seperti dana pensiun, reksa dana, dan pasar obligasi. Ujung persoalan akhirnya sampai juga pada ekonomi riil dan daya beli konsumen. Diperkirakan, pusat gempa di pasar finansial AS ini akan menyebar ke lebih dari 100 negara di seluruh dunia. Sebuah gelombang masif yang mahadahsyat.

Terhadap gejolak tersebut, muncul pertanyaan serius, apa sebenarnya akar dari persoalan tersebut? Dan, bukankah dunia telah mengalami persoalan serupa berkali-kali, mengapa selalu berulang? Dulu pada tahun 1929, pasar modal AS diguncang oleh kepanikan yang berujung pada depresi besar (great depression) dunia. Masa-masa sulit tersebut telah mendera hampir semua negara di dunia. Pada tahun 1998, menyusul krisis yang terjadi di Rusia, sebuah perusahaan sekuritas besar, LTCM (Long-Term Capital Management), tumbang. Dan kini, dampak krisis subprime-mortgage merajalela.

Terkait dengan kekacauan pasar finansial AS tersebut, berbagai langkah penyelamatan dilakukan. Selain AIG, pemerintah juga menginjeksi Bear Stearns Co.Inc, Fannie Mae dan Freddie Mac. Mengapa mereka diselamatkan?

AIG disebut-sebut sebagai perusahaan asuransi terbesar di AS, sementara Fannie Mae dan Freddie Mac merupakan perusahaan yang bergerak di bidang pembiayaan perumahan paling besar. Jika perusahaan-perusahaan besar ini tidak diselamatkan, kekacauan akan semakin parah. Dengan kata lain, mereka terlalu besar untuk gagal (too big to fail).

Terkait dengan usaha penyelamatan tersebut, ada sebuah pertanyaan esensial yang mengusik. Bukankah pada akhirnya otoritas harus turun tangan juga menyelamatkan bisnis besar tersebut? Mengapa menunggu sampai terjadi kegagalan di pasar?

Inikah buntut dari pandangan bahwa negara hanya diperbolehkan masuk ketika pasar sudah gagal menyelesaikan persoalannya sendiri (market failure). Inikah model negara sebagai ”pemadam kebakaran”? Bukankah langkah-langkah penyelamatan ini tak lain sebuah intervensi? Dan, jika begitu, mengapa intervensi tidak dirancang untuk diimplementasikan pada sistem ekonomi sehingga kekacauan tidak perlu terjadi?

Pertanyaan-pertanyaan ini menjadi perhatian Minsky sudah sejak lama. Namun, pemikirannya dianggap menghambat perkembangan dinamika pasar finansial. Kini, ketika terbukti premis-premis yang disampaikan Minsky benar, bukunya dilakukan repackaging atau relevan untuk dikemas dan diterbitkan kembali.

Post-Keynesian

Buku Stabilizing an Unstable Economy mencoba menjelaskan mengapa ekonomi selalu mengandung gejolak dan instabilitas. Jawabannya, karena instabilitas disebabkan oleh perilaku finansial unit-unit ekonomi yang berada dalam ruang lingkup ekonomi tersebut.

Pemikirannya sangat dipengaruhi oleh Keynes tentang nilai investasi, ketidakpastian atas masa depan, perilaku spekulasi dan sifat binatang (animal spirit). Keynes pernah mengatakan ”dalam sebuah sistem ekonomi yang tidak stabil, sifat spekulasi mendominasi perusahaan-perusahaan”.

Bagi Minsky, instabilitas bersifat alamiah (natural) pada sebuah sistem perekonomian. Maka dari itu, ekonomi memang akan bergerak secara fluktuatif, kadang naik (boom), kadang surut (bust). Dan, sifat pasang surut ini digerakkan oleh kondisi keuangan unit-unit ekonomi (perusahaan, bank, lembaga sekuritas, dan sebagainya).

Ada 3 tipe utama, perilaku para agen ekonomi. Pertama, Hedge, ketika perusahaan bisa melunasi seluruh kewajibannya dari hasil operasional usahanya. Kedua, Speculative, terjadi kalau untuk melunasi kewajibannya perusahaan harus utang dulu, mengingat hasil operasinya tidak cukup untuk menutup utang. Ketiga, Ponzi, yaitu manakala untuk menutup kewajibannya perusahaan harus menjual seluruh asetnya terlebih dahulu (likuidasi).

Sistem finansial modern memungkinkan para pelaku ekonomi bersikap spekulatif dan karena itu dengan sangat mudah berubah menjadi ponzi. Apa yang terjadi pada Lehman dan perusahaan finansial lainnya persis sama dengan apa yang dikemukakan oleh Minsky. Seandainya mereka berhati-hati (hedge), maka tidak akan terjadi kekacauan seperti ini. Akan tetapi, karena hampir semua perusahaan bersifat spekulatif, maka dengan mudah bisa berubah menjadi ponzi. Dan, pada titik ini, pemerintah harus turun tangan menyelamatkan mereka.

Jadi, tidak berlebihan jika dikatakan kalau mereka untung hasilnya ”diprivatisasi” (dimiliki privat), tetapi jika rugi, bebannya dibagikan kepada pihak lain (sosialisasi). Hal yang sama sebenarnya terjadi pada kasus Bantuan Likuiditas Bank Indonesia (BLBI).

Krisis justru disebabkan oleh ulah para pelaku usaha yang tidak berhati-hati melakukan kebijakan keuangan. Tetapi ketika kondisi keuangan mereka jebol, APBN-lah yang harus menanggungnya. Lebih parah lagi, bantuan itu pun dikorupsi. Jadi, kurang apa lagi untuk menyeret para pelaku pembobolan BLBI ke meja hijau? Kasus ini mendesak dibuka kembali.

Mungkin inilah saatnya untuk memikirkan ulang format kebijakan ekonomi, baik pada level mikro (perusahaan), nasional, maupun global. Mungkinkah sistem yang mengandalkan fundamentalisme pasar seperti terjadi selama ini tidak akan bertahan lagi? Inikah saatnya kembali menata arsitektur baru sistem finansial global, di mana pola intervensi negara menjadi salah satu tulang punggungnya?

Banyak pengamat mulai mengatakan, rentetan krisis belakangan ini telah membawa kita kembali para era-Keynesianism. Dan, Minsky adalah seorang post-keynesianist sejati. Pemikirannya memang patut dikemas kembali karena justru begitu relevan akhir-akhir ini.

A Prasetyantoko Menyelesaikan Program Doktor Ilmu Ekonomi di ENS-Lyon bekerja sama dengan ESCP-EAP, European School of Management; Pengajar di Unika Atma Jaya, Jakarta

A PRASETYANTOKO

Dapatkan artikel ini di URL:
http://entertainment.kompas.com/read/xml/2008/09/28/01125694/menemukan.akar.instabilitas.finansial

No comments:

Rafael V. Mariano, chairperson of the Peasant Movement of the Philippines, 2000

Food has long been a political tool in US foreign policy. Twenty-five years ago USDA Secretary Earl Butz told the 1974 World Food Conference in Rome that food was a weapon, calling it 'one of the principal tools in our negotiating kit.' As far back as 1957 US Vice-President Hubert Humphrey told a US audience, "If you are looking for a way to get people to lean on you and to be dependent on you in terms of their cooperation with you, it seems to me that food dependence would be terrific."